PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN TALKING STICK TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS X – IIS SMA NEGERI 3 BATU


PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN TALKING STICK TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS X – IIS SMA NEGERI 3 BATU





ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan pengaruh model pembelajaran talking stick terhadap hasil belajar siswa kelas X IIS SMA Negeri 3 Batu pada Tahun ajaran 2018/2019. Penelitian ini menggunakan teknik kuantitatif. Jenis pada penelitian ini kuasi eksperimen (Quasi Eksperimentas Design) dengan bentuk desain Nonequivalen Control Group Design. Populasi dalam pelitian ini adalah seluruh kelas X IIS SMA Negeri 3 Batu dengan kelas X IIS 2 sebagai kelas eksperimen dan kelas X IIS 3 sebagai kelas kontrol.Sebelum model pembelajaran talking stick diterapkan, penelitimelakukan pre – test untuk manteri manajemen dan didapatkan nilai 55,00 untuk nilai rata – rata kelas eksperimen dan 54,21 untuk kelas kontrol. Setelah model pembelajaran talking stick diterapkan dan post test dilakukan, skor yang didapat mencapai 85,00 untuk nilai rata – rata kelas eksperimen dan 73,28 untuk kelas kontrol. Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan analisis SPSS dari t – test dengan taraf signifikansi α = 0,05, nilai ρ didapat sebesar 0,000 < 0,05 dan dapat dikatakan bahwa H0 ditolak dan Ha diterima. Dari nilai, dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran talking stick mempengaruhi hasil belajar siswa mata pelajaran ekonomi materi manajemen kelas X IIS SMA Negeri 3 Batu.

Kata Kunci : Talking Stick, Hasil belajar siswa





PENDAHULUAN

Pendidikan memiliki peran penting bagi manusia secara umum, dalam pendidikan dapat membentuk peran baik maupun buruk dalam pribadi manusia. Pendidikan mempunyai aspek yang mendasar bagi membangun bangsa suatu Negara. Sistem pendidikan yang dikatakan baik dapat dinginkannya suatu generasi bangsa yang berkualitas. Peraturan pemerintah No. 19 pasal 19 ayat 1 yang menjelaskan tentang “Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interatif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian

sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik”. Menurut Arikunto (dalam Purwanto, 2014:35), dalam proses pembelajaran diharapkan mempunyai tujuan pendidikan berupa perubahan perilaku yang telah diingankan setelah siswa mendapatkan materi yang sudah diajarkan. Tujuan belajar dapat dijabarkan mulai dari tujuan nasional, institusional, kurikuler sampai intruksional. Pada hakikanya belajar merupakan suatu proses, mengamati dan memahami suatu proses interaksi disekitar individu. Dengan adanya pendidikan disekolah yang melibatkan guru maupun siswa, sebagaimana guru sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik dapat berinteraksi dalam rencana pembelajaran.

Berkaitan dengan mencapainya keberhasilan dalam suatu pembelajaran kegiatan terdapat beberapa komponen – komponen yang ada dan harus dikembangan oleh guru, yaitu tujuan, materi, strategi, dan evaluasi pembelajaran (Hosnan,2014:8). Interaksi yang sangat kuat dan penting dalam pelaksanaan proses belajar mengajar berhubungan dengan guru, siswa, dan bahan ajar. Pada dasarnya suatu pembelajaran terdapat interaksi komunikasi yang ada diantara guru, siswa, dan bahan ajar. Dalam interaksi komunikasi yang dilakukan baik secara langsung dalam kegiatan tatap muka maupun secara tidak langsung yang telah menggunakan media, dimana sebelumnya sudah pernah menyatuhkan model pembelajaran yang sudah diterapkan (Hosnan, 2014:18-19). Penetapan model pembelajaran ini harus didasarkan pada materi yang akan diajarkan disekolah.

Dapat dikemukan pada materi pembelajaran (instructional material) merupakan pengetahuan, keterampilan, maupun sikap yang wajib dikuasai oleh peserta didik dalam rangka memenuhi standar kompetensi yang telah ditetapkan (Amri, 2013:59). Dimana dalam materi pembelajaran dapat dipilah sebaik mungkin guna membantu peserta didik untuk menggapai standar kompetensi maupun kopetensi dasar. Arah penelaahan ekonomi di SMA menggambarkan salah satu arah penelaahan yang wajib, terutama pada bidang IPS. Dalam implementasi pembelajaran kurikulum 2013, mata pelajaran ekonomi dipelajari oleh seluruh siswa baik IPS maupun IPA (yang merupakan lintas minat). Mata pelajaran ekonomi merupakan bagian dari disiplin ekonomi ilmu sosial. Tujuan dari pembelajaran ekonomi membuat siswa menjadi aktif, kreatif dalam mengatasi fenomena serta dapat menyelesaikan soal – soal dengan permasalahan ekonomi.

Bersumber pada hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti di SMA Negeri 3 Batu, bahwa pembelajaran disekolah sudah menggunakan kurikulum 2013. Pada saat proses pembelajaran masih mengenakkan pembelajaran ceramah, kemudian dilanjut bersertaberdiskusi, dan mengerjakan LKS. Dalam kegiatan cara belajar mengajar, hasil belajar membentuk nilai akhir yang telah diberikan kepada siswa yang telah melaksanakan proses pembelajaran. Dimana hasil belajar siswa menurun. Dengan adanya model pembelajaran diharapkan dapat menaikkan nilai hasil belajar siswa kelas X – IIS yang berjumlah 3 kelas atas arah pengetahuan ekonomi. Dimana hasil yang didapatkan oleh siswa kelas X – IIS 1 adalah 80,41, X – IIS 2 adalah 79,31, dan sedangkan kelas X – IIS 3 adalah 79, 25.

Bagian dari hasil wawancara yang telah dilakukan bersama guru mata pelajaran ekonomi di kelas X – IIS, hasil belajar siswa meningkat dengan adanya ujian lisan dan siswa menyukai dengan adanya model pembelajaran kooperatif. Dengan adanya model pembelajaran talking stick diharapkan murid makin aktif, karena di model pembelajaran talking stick. Dimana kelas X - IIS 2 diberi perlakuan dan kelas X – IIS 3 tidak mendapatkan perlakuan.

Penelitian ini didukung oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Kharis (2018) dalam penelitian ini yang menunjukkan bahwa model pemeblajaran talking stick itu lebih baik dalam meningkatkan prestasi pembelajaran kognitif. Dengan menggunakan perhitungan SPSS analisis uji – t dengan taraf signifikan α = 0,05 diperoleh nilai thitung sebesar 19,569 sedangkan nilai ttabel sebesar 1,70 dan nilai pretest diperoleh rata – rata sebesar 51,33 dan nilai posttest diperoleh rata-rata sebesar 78,01 sehingga hasil belajar siswa menunjukkan hasil peningkatan. Dan dapat ditarik kesimpulankarena thitung > ttabel maka hipotesis Ho ditolak dan H1 diterima yang artinya hasil belajar siswa setelah menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe talking stick lebih baik dari hasil belajar siswa sebelum diberi model pembelajaran kooperatif tipe talking stick pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 2 Batu.

Berdasarkan latar belakang diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN TALKING STICK TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS X - IIS SMA NEEGERI 3 BATU”

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukan diatas, maka dirumusan masalah sebagai berikut “Adakah pengaruh model pembelajaran talking stick terhadap hasil belajar siswa kelas X-IIS SMA Negeri 3 Batu ?”

Menurut Hosnan (2014 : 337), model pembelajaran merupakan kerangka konseptual ataupunoperasional, yang menggambarkan strategi yang terstruktur dalam mengarahkan melatih diri untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai arahan bagi para guru dalam menguraikan, dan melangsungkan kegiatan pembelajaran.

Menurut Amri (2013 : 34), model pembelajaran yaitu merupakan rancangan maupun pola yang diterapkan sebagai arahan dalam merancanakan pembelajaran dikelas maupun pembelajaran didalam kelas pengajaran tambahan dengan memastikan alat – alat pembelajaran tergolong di dalam buku – buku, film, komputer, kurikulum, dan lain lain. Sedangkan menurut Suprijono, 2014), model pembelajaran adalah sistem yang diterapkan sebagai arahan yang berisi menyusun pembelajaran dikelas maupun dikelas pengajaran tambahan.

Menurut Ngalimun (2014 : 29), Fungsi model pembelajaran merupakan sebagai arahan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. Model pembelajaran memiliki arti yang makin luas dari pendekatan, strategi, metode, dan teknik. Model pembelajaran terdapat empat bagianyaitu (a) Rasional teoritik yang logis disusun oleh para penyusun atau pengembangan, (b) Asas pandangan perihal bagaimana murid belajar, (c) perilaku yang dilaksanakan bersama hasil, (d) area belajar yang diinginkan guna tercapainya tujuan pembelajaran (Trianto dalam ngalimun, 2014 : 29). Sedangkan menurut Suprijono (2014 : 46), menempuh model pengajaran guru dapat menolong peserta didik memperoleh gambaran, ide, keterampilan, cara berfikir dan meluapkan inisiatif. Model pembelajaran berfungsi juga sebagai arahan bagi para penyusun pembelajaran dan bagi guru dalam menyusun belajar mengajar.

Menurut Kagan (dalam Hosnan, 2014 : 234), pembelajaran kooperatif merupakan srategi pengajaran yang berkembang dimana kelompok kecil, setiap siswa mempunyai tingkat kapasitas yang berselisih, memerlukan beraneka macam kegiatan belajar untuk menumbuhkanpengertian mereka terhadap suatu bagian. Berlandaskan pandangan Suprijono (2014 : 54-55) pembelajaran kooperatif yaitu rancangan yang lebih luas untuk mencakup semua jenis kerja kelompok tergolong bentuk -bentuk yang dipimpin oleh guru atau lebih dibimbing oleh guru. Sebagaian besar pembelajaran kooperatif dianggap lebih dibimbing oleh guru, dimana guru memastikan tugas dan pertanyaan – pertanyaan serta mempersiapkan bahan – bahan dan informasi yang disusun untuk membantu peserta didik mengatasi masalah yang diberikan. Guru umumnya menetapkan bentuk ujian tertentu pada akhir tugas.

Berlandaskan pandangan Hosnan (2014 : 234), arah model pembelajaran kooperatif ialah meningkatkan hasil akademik dan siswa dapat bekerjasama sesama teman, dan meluaskan keterampilan sosial. Sedangkan menurut Johnson (dalam Trianto, 2015 : 109) arah mendasar belajar kooperatif ialah mengoptimalkan belajar murid agar meningkatkan prestasi akademik dan pengertian baik selaku persorangan maupun selaku kumpulan.

Berlandaskan pandangan Fathurrohim (2015 : 48), arah dari pembelajaran kooperatif ialah menadakan eadaan saat kesuksesan perseorangan ditentukan atau dipengaruhi keberhasilan kumpulan. Dimana situasi tersebut berbeda dengan arah pembelajaran konvensional yang memakai sistem kompetensi, dimana kesuksesan persorangan diorientasikan pada kekalahan antar temanlain.

Model pembelajaran talking stick menggambarkan satu dari beberapa banyak model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran tersebutmenggunakan dukungan tongkat. Tongkat dijadikan alat sebagai bagian atau kesempatan untuk memperoleh atau memberi jawaban pertanyaan dari guru sehabis murid mempelajari mata pelajaran (Kurniasih & Sani, 2016 : 82).

Sedangkan Suprijono (2009 : 109), penelaahan dengan metode talking stick menstimulasi murid agar percaya diri mengemukan gagasan. Dimana keberanian siswa mengemukakan pendapat dikarenakan materi yang sudah dikuasai akan berpengaruhnya terhadap hasil belajar. Model pembelajaran talking stick sangat berpengaruh positif untuk diterapkan dalam meningkatkansistem pembelajaran PAIKEM yakni Pembelajaran partisipai, Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan.

Langkah – Langkah Model Pembelajaran Talking Stick Kurniasih & sani (2016 :83 – 84), Teknis pelaksanaan pengaruh model pembelajaran talking stick ialah sebagai berikut : (a) Guru menerangkan arah pembelajaran pada saat itu. (b) Guru mengarahkan siswa untuk berkelompok yang terdiri atas 5 orang. (c) Guru menyediakan sebuah tongkat yang panjang 20 cm. (d) Selain itu, guru menyajikan materi pokok yang akan dipelajari, lalu menaruh kesempatan pada kelompok untuk membaca dan mempelajari materi pelajaran tersebut dalam waktu yang telah ditentukan. (e) Siswa berdiskusi untuk membahas masalah yang terdapat pada teks. (f) Sesudah kelompok mendapatkan materi pelajaran dan mempelajari isinya, guru mempersilahkan anggota untuk menutup isi materi. (g) Guru mulai mengambil tongkat dan guru mulai memutar tongkat tersebut, dimana berhenti disalah satu anggota kelompok yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya, demikian seterusnya sampai sebagai besar siswa mendapatkan bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru. (h) Jika anggota kelompoknya tidak bisa menjawab pertanyaan, kelompok lain boleh membantu untuk menjawab pertanyaan. (i) Setelah semuanya mendapatkan giliran, guru membuat kesimpulan dan melakukan evaluasi, baik individu ataupun kelompok. Dan setelah itu menutup pelajaran.

Berlandaskan pendangan Kunandar (2013 : 62), hasil belajar ialah kopetensi atau kapasitas yang dimiliki baik kognitif, afektif, dan psikomotor yang telah diperoleh atau dikuasai murid setelah mengikuti proses belajar mengajar. Sedangkan pandangan Hosnan (2014 : 158), hasil belajar ialah keahlihan yang diperoleh murid sesudah melewati kegiatan belajar. Dimana hasil pembelajaran memiliki pengertian secara luas, hasil belajar kerap disamaratakan dengan prsetasi belajar, dantidak dapat dipisahkan dari sikap belajar, sebab pembelajaran dapat merubah pola perilaku. Hasil belajar yang tergolong penting adalah peningkatan kompetensi (pengetahuan, sikap, dan keterampilan) pada objek yang dipelajar, motivasi berprestasi, rasa percaya diri, dan kemampuan pengembangan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh masyarakat.

Menurut Hosnan (2014 : 158), faktor kemampuan siswa besar sekali pengaruh terhadap hasil belajar yang dicapai, seperti dikemukan oleh Clark maka hasil belajar di sekolah 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30% oleh lingkungan. Menurut Caroll dalam Angkowo (dalam Musfiqoh, 2012 : 10), berpandangan bahwa hasil belajar siswa dipengaruhi oleh 5 (lima) faktor, yakni : (a) Faktor kemampuan belajar, (b) Faktor waktu yang tersedia untuk belajar, (c) Faktor kemampuan individu, (d) Faktor kualitas pengajaran, dan (e) Faktor lingkungan.

METODE

Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu (Quasi Eksperimental Design). Karena eksperimen semu (Quasi Eksperimental Design) ini terdiri dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah nonequivalent contol group design. Desain penelitian ini hampir sama dengan pretest-posttest contol grup design, hanya menggunakan desain kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol tidak dipilih secara random.



Tabel 1. Rancangan Penelitian

O1
X
O2
O3

04

Sugiyono (2010)

X                          : Perlakuan yang diberikan kepada kelompok eksperimen.

O1 dan O3           : Pre-Test yaitu soal yang diberikan kepada siswa sebelum pembelajaran.

O2 dan O4           : Post-Test yaitu soal tes yang diberikan kepada siswa sesudah kegiatan pembelajaran.



Subjek penelitian ini penulis mengambil lokasi penelitian di SMA Negeri 3 Batu Tahun Pelajaran 2018/2019, yang beralamat di Jalan Raya Sumbergondo Bumiaji Kota Batu dan kelas X-IIS 2 yang terdiri dari 32 siswa sebagai kelas eksperimen dan kelas X-IIS 3 yang terdiri dari 32 siswa sebagai kelas kontrol.

Variabel bebas atau independent dalam penelitian ini adalah menggunakan model pembelajaran talking stick dan model pembelajaran yang ada berada disekolah. Variabel terikat atau dependen dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa yang berupa diberi pretest dan posttest dan menggunakan ranah kognitif dan berbentuk pilihan ganda.

Intrumen dalam penelitian ini berupa silabus, perangkat pelaksanaan pembelajaran (RPP), dan lembar Tes. Tes dilakukan sebanyak 2 kali berupa tes awal dan tes akhir, tes dilakukan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Tes dalam pilihan ganda ini sebanyak 25 butir soal yang telah di validitas ahli. Selanjutnya, dilakukan pada validitas soal pada kelas yang bukan dijadikan sampel dalam penelitian.

Teknis analisis data pada penelitian ini digunakan untuk memahami perbedaan hasil belajar siswa di kelas eksperimen dengan mengaplikasikan model pembelajaran talking stick dan kelas kontrol yang mengaplikasikanpembelajaran sesuai tanpa ada perlakuan. Pada analisis instrumen tes terlebih dahulu di validasikan oleh validasi ahli, selanjutnya, dilaknjut dengan validasi item butri soal, reabilitas soal, menentukan taraf kesukaran soal, dan menentukan uji daya beda soal. Berdasarkan jumlah butir soal yang telah di validasikan ahli berjumlah 20 butri soal. Sedangkan dalam teknis analisi data terdapat uji persyaratan analisis data guna untuk menguji hipotesis penelitian menggunakan uji – t. Untuk bisa melakukan uji hipotesis, terdapat prasyaratan terdapatan syarat yaitu : (1) data analisis harus berdistribusi nornal, (2) data yang di analisis harus bersifat homogen. Untuk membuktikan dan memenuhi prasyaratan tersebut, maka dilakukan uji prasyarat analisis dengan menggunakan uji normalitas, dan uji homogenitas.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan terdapat perbedaan hasil belajar siswa sebelum dan sesudah dilakukan perlakuaan dengan menggunakan model pembelajaran talking stick :





Tabel 2. Tingkat Hasil Belajar Siswa

Kelas
Hasil Pre-Test
Hasil Post-Test
Presentase Kenaikan dari Pre-Test
Eksperimen
55.00
85.47
30%
Kontrol
54.21
76.56
22%



Berdasarkan tabel 2 terdapat variabel hasil belajar siswa bagi kelas kontrol maupun kelas eksperimen sama - sama menunjukkan kenaikan pada setiap kelas. Dimana pada kelas eksperimen memiliki kenaikan hasil belajar, dikarenakan pada kelas eksperimen telah mendapatkan perlakuan dalam model pembelajaran, sedangkan pada kelas kontrol hanya diberi model pembelajaran setempat.

Dalam meningkatkan hasil belajar yang telah dijelaskan diatas sejalan dengan apa yang dikemukan Hosnan (2014 : 158), hasil belajar merupakankemampuan yang didapatkan siswa sesduah menempuh kegiatan belajar. Dimana hasil pembelajaran memiliki pengertian secara luas, hasil belajar kerap disamaratakandengan prsetasi belajar, dan tidak dapat dipisahkan dari sikap belajar, sebab mbelajaran dapat merubah pola perilaku. Hasil belajar yang tergolong penting adalah peningkatan kompetensi (pengetahuan, sikap, dan keterampilan) pada objek yang dipelajar, motivasi berprestasi, rasa percaya diri, dan kemampuan pengembangan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh masyarakat.



Pembahasan

Dalam hal melakukan penelitian ini, bertujuan ingin menafsirkan adanya pengaruh model pembelajaran talking stick terhadap hasil belajar ekonomi pada anak didik kelas X SMA. Mengenai analisis hasil penelitian yang terdapat di kelas eksperimen yang mendapat perlakuan model pembelajaran talking stick lebih tinggi dari pada kelas kontrol yang hanya mendapatkan model pembelajaran sesuai dengan sekolah setempat.

Adapun hasil output SPSS versi 22 dengan melihat tabel uji independent t-test menunjukkan bahwa terdapat nilai signifikansi t hitung adalah 0,000 < 0,05, sehingga dapat disimpulkan untuk mengatahui adanya perbedaan hasil belajar siswa antar kelas eksperimen maupun kelas kontrol. Terdapat nilai keseluruhan dari siswa kelas eksperimen 85,47, jumlah 32 siswa mendapatkan nilai diatas KKM atau tuntas. Melainkan di kelas kontrol terdapat nilai keseluruhan siswa 76,75, Dimana pada kelas kontrol terdapat 9 siswa yang tidak tuntas menjawab soal posttest dari 32 siswa.

“Karnia dkk, menjelaskan bahwa murid yang mengikuti pembelajaran kooperatif tipe talking stick lebih baik dari pada siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan model pembelajaran konvensional. I Gst A A Wahyudiantari (2015), mengatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe talking stick berbantuan multimedia pembelajaran interaktif memiliki pengaruh yang sangat penting dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Sedangkan Kadek Rai Puspitawangi dkk (2016), bahwa hasil belajar pada kelompok siswa yang telah diberi model pembelajaran talking stick yang berbantuan audio lebih baik dibandingkan siswa yang diberi pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran konvensional atau model pembelajaran langsung.Mendukung dari pernyataan ketiga peneliti tersebut, maka hasil penelitian pengaruh model pembelajaran talking stick ini juga memiliki pengaruh terhadap hasil belajar siswa dalam materi ekonomi kelas X SMA”.Sejalan dengan pernyataan diatas, hal ini menunjukkan bahwa adanya pengaruh yang signifikan dalam model pembelajaran talking stick terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas X SMA.

Secara umum pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran talking stick dapat diterapkan secara berulang – ulang sehingga siswa mampu lebih paham menyerap pelajaran yang telah disampaikan. Hal ini juga didukung dengan adanya pemberian soal evaluasi diakhir agar siswa lebih paham dan tidak akan lupa dengan materi yang sudah diajarkan. Sedangkan pada kelas kontrol dimana guru hanya menggunakan materi yang satu arah sehingga siswa lebih cenderung kurang aktif atau dapat dikatakan yang aktif lebih aktif dan yang kurang aktif cenderung tertinggal.

Dikemukan dari pertemuan pertama pada kelas eksperimen, siswa dikondisikan untuk membuat kelompok dan kelompok tersebu akan mendapatkan talking stick dengan kondusi suasana kelas yang kondusif agar dapat memulai kegiatan pembelajaran, kemudian siswa diberikan pengarahan oleh guru untuk mengerjakan soal pretest kurang lebih 15 menit untuk menyelesaikan soal tersebut. Tahap berikutnya guru mulai menghubungkan materi konsep dasar manajemen dengan kehidupan sehari-hari siswa. Kemudian guru menetapkan tujuan pembelajaran disambung dengan memberikan materi konsep dasar manajemen dan memberian video terkait dengan materi pembelajaran.

Setelah guru menjelaskan materi kemudian guru membagi kelompok untuk mendapatkan talking stickyang disiapkan oleh guru, sekitar 15 menit masing –masing kelompok membaca materi dan kemudian siswa menutup materi, dan guru memulai membagikan talking stick kepada siswa, dimana stick itu berhenti di salah satu kelompok maka perwakilan kelompok tersebut memberikan jawaban. Agar guru dapat mengetahui sejauhmana spemahaman siswa tersebut dalam materi yang sudah diajarkan. Sebelum materi diakhiri guru melakukan tinjauan ulang dengan memberikan soal evaluasi dan menarik kesimpulan. Sebelum pemberian posttest diakhir guru memberikan point untuk kelompok yang mengerjakan tugas dengan baik dan tepat waktu serta memberikan point untuk murid yang giat dalam kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung.

Sedangkan pada kelas kontrol pembelajaran dimulai dengan pemberian pretest selama kurang lebih 15 menit. Setelah pretest selesai guru menerangkat materi yang akan diajarkan lalui diikuti dengan pemberian tugas kelompok dan mempresentasikan. Guru menentukan kelompok untuk mempersembahkan hasil yang telah dikerjakan. Setelah materi sudah diajarkan dilanjuttan dengan pemberian posttest diakhir pertemuan. Dari adanya perlakuan yang berbeda dari dua kelas tersebut maka akan terlihat pengaruh dari perbedaan dua kelas yang telah diberikan perlalukan atau tidak diberi perlakuan.



SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang merujuk dengan adanya penggunaan model pembelajaran talking stick berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar siswa. Beserta adanya model pembelajaran talking stick, dimana siswa yang lebih aktif dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar. Siswa semakin aktif dalam proses pembelajaran dan siswa semakin termotivasi dalam pembelajaran , maka hasil belajar yang akan di dapatkan akan meningkat.



SARAN

Dimana diharapkan agar guru dapat memberikan model pembelajaran yang inovatif dan proses belajar lebih menyenangkan dalam pembelajaran dikelas dan dapat menaikkan hasil belajar siswa. Dengan diadakan model pembelajaran talking stick diharapkan siswa dapat makin aktif pada pembelajaran ekonomi sebagai variansi pembelajaran di kelas X SMA Negeri 3 Batu. Untuk peneliti yang berkehendak untuk mengadakan penelitian dengan menggunakan model pembelajaran talking stick agar dapat memperhatikan hambatan yang dialami dalam penelitian ini agar dapat dijadikan pertimbangan untuk perbaikan dan penyempurnaan penelitian yang akan dilaksanakan.





































DAFTAR PUSTAKA.

“Amri, Sofan.2013. Pengembangan dan Model Pembelajaran Dalam Kurikulum 2013. Jakarta-Indonesia : PT Prestasi Pustakaraya”.

“Fathurrohman, Muhammad. 2015. Model – Model Pembelajaran Onovatif. Jogjakarta : Ar-Ruzz Media”.

“Hosnan. 2014. Pendekatan Saintifik Dan Kontekstual Dalam Pembelajaran Abad 21. Bogor : Ghalia Indonesia”.

“Kharis, luqman. 2018. Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe talking stick untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 3 Batu. Vol 03(02) : hal 267 – 274”.

I Gst A A Wahyudiantari dkk. 2015. “Pengaruh model pembelajaran kooperatig tipe talking stick berbantuan multimedia pembelajaran interaktif dalam meningkatkan hasil belajar IPA”.

“Kunandar. 2014. Penilaian Autentik (penilaian Hasil BelajarPeserta didik Berdasarkan Kurikulum 2013). Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada”.

“Kurniasih, Imas & Sani, Berlin. 2016. Model pembelajaran.Yogyakarta : Kata Pena”.

“Ngalimun. 2014. Strategi dan Model Pembelajaran.Yogyakarta : Aswaja Pressindo”.

“Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan”.

“Purwanto. 2014. Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta : Pustaka Pelajar”.

“Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatis Dan R & D. Bandung : Alfabeta”.

“Suprijono, Agus. 2014. Cooperative learning.Yogyakarta : Pustaka Pelajar”.


Komentar